MAQASID AL-SYARI’AH SEBAGAI ALTERNATIF METODE MEMAHAMI AL-QURAN

MAQASID AL-SYARI’AH SEBAGAI ALTERNATIF METODE MEMAHAMI AL-QURAN

Yogyakarta, Senin (13/03/2017) Program Studi Magister (S2) Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, menyelenggarakan Kuliah Umum dengan menghadirkan Professsor Jasser Auda dari the International Peace College South Africa, Directur Eksekutif the Maqasid Institute, dan Visiting Professor Islamic Law di Carleton University Kanada. Beliau adalah pendiri dan Anggota the International Union of Muslim Scholars. Jasser Auda dikenal luas di Indonesia melalui beberapa buku beliau yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Tema yang diangkat dalam kuliah umum adalah “Maqasidi Approach to Understand the Qur’an dan Contemporary Issues.”

Dalam pidatonya Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam menyampaikan bahwa pembicara sengaja dihadirkan untuk memberikan pengayaan teori dan wacana pada dosen dan mahasiswa tentang teori Maqasid al-Syari’ah yang berbeda dengan teori Maqasid yang ada. Acara ini digelar di teatrikal Fakultas Ushuluddin dengan dihadiri oleh dosen-dosen dan ratusan mahasiswa baik dari Program Magister maupun Prodi IAT dan Prodi lainnya, yang penuh antusias mendengarkan ceramah dan berdialog dengan narasumber. Lien Iffah Naf’atu Fina, M.Hum yang bertugas sebagai moderator mengantarkan ceramah dengan menanyakan berbedaan Maqasid As-Syari’ah dengan Maqasid al-Qur’an.

Dalam ceramahnya Prof. Jasser Auda menyampaikan tentang perbedaan antara konsep syariah dan fiqh. Syariah merupakan wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw dan menjadi risalah dan tujuan wahyu yang harus direalisasikan di tengah kehidupan. Fiqih berbeda dengan Syari’ah karena merupakan kumpulan pendapat atau pemahaman mengenai hukum yang dihasilkan dari pikiran para ahli fiqh dengan berbagai metode istinbat. Maqasid al-Syari’ah merupakan metodologi untuk memahami syariah yang terdapat dalam al-Quran. Sebagai sebuah metodologi Maqasid al-Syari’ah dapat digunakan untuk mengali nilai-nilai human right, misalnya, sehingga umat Islam dapat menggali nilai-nilai dari al-Qur’an dan tidak mengadopsi nilai-nilai dari Barat yang seringkali berbeda dengan konsep Islam. Dalam konteks ini, Jasser menyatakan bahwa dia berbeda dengan Hasan Hanafi dengan proyek Oksidentalismenya yang mengadopsi metodologi Barat. Menurutnya, Maqasid al-Syari’ah membantu umat Islam memahami al-Quran secara komprehensif dengan mengintegrasikan metode deduktif dan induktif.

Jasser Auda mengkritisi konsep Maqasid al-Syariah klasik yang terjebak pada kemaslahatan individu dan menawarkan konsep yang lebih bersifat komunal. Konsep maqasid direformulasi dari perlindungan keturunan (hifz al-nasl) menjadi perlindungan keluarga (hifz al-usrah); dari perlindungan akal (hifz al-aql) menjadi berpikir ilmiah atau perwujudan semangat mencari ilmu pengetahuan; dari perlindungan jiwa (hifz al-nafs) menjadi perlindungan kehormatan manusia (hifz al-karamah al-insaniyah) atau perlindungan hak-hak manusia (hifz huquq alinsan); dari perlindungan agama (hifz al-din) menjadi perlindungan kebebasan berkeyakinan (hurriyah al-I’tiqad); dan dari perlindungan harta kekayaan (hifz al-mal) menjadi pewujudan solidaritas sosial.

Jasser menawarkan filsafat sistem dalam maqasid al-Syariah sebagai kritik atas modernitas dan postmodernitas yang bersifat reduksionis karena mengklaim bahwa seluruh pengalaman manusia hanya dapat dipahami melalui logika sebab-akibat. Teori sistem sebagai pendekatan dalam hukum Islam menurut Jasser Auda berdasarkan seperangkat kategori, yaitu cognitive nature (watak kognisi), wholeness (keseluruhan), openness (keterbuka an), interrelated hierarchy, multi dimentionality dan purposefulness.

Ceramah dilanjutkan dengan tanya jawab yang dimeriahkan dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa yang disampaikan dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab. Forum kuliah umum ini menggambarkan kesiapan mahasiswa Program Magister (S2) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dan Program Studi S1 Ilmu al-Qur’an dan al-Hadis untuk terlibat dalam forum internasional yang ditandai dengan kemampuan mereka berdiskusi dalam Bahasa Inggris atau Arab dan memahami apa yang disampaikan oleh narasumber.

Forum ditutup dengan nasehat dan pesan Jasser Auda agar mahasiswa yang akan memegang estafet ilmu keislaman membiasakan diri read read and read.

Program Magister (S2) Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kaijaga, Yogyakarta, 2017.

Berita Terkait

Berita Terpopuler